شيشخط
Memaparkan catatan dengan label Iktibar. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Iktibar. Papar semua catatan

Khamis, 28 Januari 2010

Baling Batu Di Balas Bunga

Bukan baling batu balas dengan bom atau lebih malang baling bom balas dengan batu macam di Palestin dan takde kena mengena dengan pepatah ‘baling batu sembunyi tangan’. Boleh juga dalam kata lain orang kentut dibalas dengan semburan perfume.


Dalam Islam membenarkan Qisas. Qisas ialah membalas semula perbuatan jahat kepada kita tetapi mesti sama. Contohnya jika potong telinga balasannya ialah potong telinga juga. Kalau potong sebelah janganlah potong dua belah telinga pulak. Namun begitu ajaran Islam juga mengatakan sesiapa yang memaafkan perbuatan jahat terhadap dirinya tertutup dosa-dosanya.
Tak sangka Ghandi pun ada mengatakan sebegini, agaknya ajaran Islam pun banyak Ghandi buat rujukan sebab tu beliau disenangi oleh orang Hindu dan orang Islam. Ghandi berpuasa (tiru Islam juga) semasa perang agama Islam dan Hindu hebat di India sehingga perang tersebut damai.


Tapi pemimpin hebat tersebut tidak dapat menandingi malah jauh sangat lagi berbanding dengan pemimpin agung kita Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW dulu bukan baling dengan batu sahaja tetapi dibaling dengan najis pun Rasulullah SAW masih bersabar. Kisahnya ada seorang kafir yang hari-hari baling najis, baling batu kepada Rasulullah , letak duri dan halangan laluan Rasulullah SAW hari-hari. Namun pada satu hari tu, mamat tu tak baling najis kepada Rasullullah. Ya Allah, betapa mulianya Baginda apabila Rasulullah SAW menziarah ke rumah jirannya itu kerana dikhuatiri jirannya tu sakit. Rupanya memang benar dia sakit. Dan melihat keperibadian mulia Rasulullah SAW, beliau terus memeluk Islam masa tu juga.


Nak compare dengan khalifah-khalifah Islam yang empat tu pun tak terbanding.
Selepas era Muawiyah, Islam sudah tidak ada khalifah lagi. Memang sudah ditakdirkan sejak azali kita tiada pemimpin Islam sedunia. Mungkin kerana kita tiada khalifah, walau pun Islam adalah agama yang mempunyai pengganut terbesar di dunia kita tidak segagah dahulu. Umat Islam berperang sesama sendiri, saling menjatuhkan, berebut kuasa sesama sendiri. Sehingga umat Islam digelar pengganas padahal yang menggelar pengganas tersebut ialah negara yang paling ganas sekali kalau tidak takkan mereka mengebom Hiroshima dan Nagasaki sehingga ratusan ribu orang mati. Bukan manusia sahaja malah tiada hidupan bernyawa yang tinggal.

Kredit:isuhangat.net

Jangan Mudah Menerima Hadiah

Pada satu hari, Abu Hurairah – salah seorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis, ditugaskan oleh Rasulullah s.a.w. memungut zakat daripada kaum Muslimin.


Selepas menunaikan tanggungjawab itu, beliau kembali bertemu Rasulullah, ketika itu Rasulullah terlihat sesuatu di dalam poket Abu Hurairah, lalu baginda bertanya “Apa yang ada di dalam poketmu wahai Abu Hurairah?”


Abu Hurairah menjawab, “Cuma sebuah hadiah yang diberikan seseorang kepadaku ya Rasulullah. Lalu Rasulullah meminta Abu Hurairah mengeluarkannya dan berkata, “Masukkan juga benda itu ke Baitulmal, ingatlah seseorang tidak akan memberi hadiah kepadamu jika engkau bukan seorang petugas pemungut zakat.”Sikap Rasulullah ini kemudiannya dicontohi oleh Khalifah Umar bin Khattab yang pernah meminta daripada isterinya seutas kalung yang diberikan orang dan menyerahkan kepada Baitulmal, kata Khalifah Umar “Kalau engkau bukan isteri seorang khalifah, mana ada orang yang akan memberikan hadiah kepadamu.”


Demikianlah sifat terpuji dan berhati-hati yang diamalkan oleh Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya dalam usaha menggelakkan diri mereka terjebak dalam gejala rasuah.


Persoalannya, sejauh manakah sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah ini dicontohi oleh sesetengah daripada kita yang mempunyai kuasa dan beragama Islam. Sebenarnya sebahagian besar daripada kita terutamanya mereka yang mempunyai kuasa dan kedudukan jarang sekali berhati-hati dalam soal pemberian hadiah ini.


Bagi mereka, apa salahnya menerima pemberian seseorang atas alasan ia hanyalah satu hadiah kecil atau cenderahati. Mungkin anggapan itu tidak salah, tetapi apakah orang yang memberikan itu benar-benar ikhlas atau hakikatnya mempunyai udang di sebalik batu.


Seseorang tidak akan memberikan sesuatu kepada seseorang lain yang mempunyai kedudukan dan kuasa tanpa sebab, sudah pasti ada sesuatu yang diinginkannya apabila `hadiah’ tersebut diberikan.


Kesudahannya akan wujud gejala rasuah yang berlaku secara langsung dan tidak langsung. Apabila sikap menerima hadiah ini sudah dianggap suatu nikmat maka ia sukar dikikis.


Mungkin dalam usaha untuk menghalalkan perbuatan itu ada di antara kita akan memberikan seribu satu alasan termasuk berpendapat bahawa tidak salah dengan kuasa dan kedudukannya dia menerima hadiah.


Ketika zaman Rasulullah dahulu, para sahabat dan generasi awal Islam menolak menerima hadiah, malah para hakim dilarang untuk dipayung ketika hujan kerana bimbang ia akan menyebabkan timbul rasa terhutang budi sehingga mengakibatkan mereka melakukan berat sebelah dalam menjalankan tugas.


Bayangkan untuk dipayung pun tidak boleh, apatah lagi menerima sebuah hadiah yang pada zaman ini seolah-olah sudah menjadi tradisi dan amalan.


Justeru berdasarkan kepada contoh yang ditunjukkan oleh Rasulullah dan dalam usaha kita membanteras gejala rasuah yang mampu meruntuhkan sebuah bangsa dan negara, hapuskanlah amalan mudah menerima hadiah ini.


Ingatlah Rasulullah telah mengingatkan kita bahawa penerima dan pemberi rasuah akan menerima pembalasan yang amat pedih di akhirat kelak.


Wassalam.

Sabtu, 9 Januari 2010

Da’wah Dusta

Ada sebuah kisah cantik yang dikutip oleh Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan dalam Taujih Ruhiyah-nya. Kisah menarik ini, atau yang semakna dengannya juga termaktub dalam karya agung Ibnul Qayyim Al Jauziyah yang khusus membahas para pencinta dan pemendam rindu, Raudhatul Muhibbin.


Ini kisah tentang seorang gadis yang sebegitu cantiknya. Dialah sang bunga di sebuah kota yang harumnya semerbak hingga negeri-negeri tetangga. Tak banyak yang pernah melihat wajahnya, sedikit yang pernah mendengar suaranya, dan bisa dihitung jari orang yang pernah berurusan dengannya. Dia seorang pemilik kecantikan yang terjaga bagaikan bidadari di taman surga.


Sebagaimana wajarnya, sang gadis juga memendam cinta. Cinta itu tumbuh, anehnya, kepada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya, belum pernah dia dengar suaranya, dan belum tergambar wujudnya dalam benak. Hanya karena kabar. Hanya karena cerita yang beredar. Bahwa pemuda ini tampan bagai Nabi Yusuf zaman ini. Bahwa akhlaqnya suci. Bahwa ilmunya tinggi. Bahwa keshalihannya membuat iri. Bahwa ketaqwaannya telah berulangkali teruji. Namanya kerap muncul dalam pembicaraan dan doa para ibu yang merindukan menantu.


Gadis pujaan itu telah kasmaran sejak didengarnya sang bibi berkisah tentang pemuda idaman. Tetapi begitulah, cinta itu terpisah oleh jarak, terkekang oleh waktu, tersekat oleh rasa asing dan ragu. Hingga hari itu pun tiba. Sang pemuda berkunjung ke kota si gadis untuk sebuah urusan. Dan cinta sang gadis tak lagi bisa menunggu. Ia telah terbakar rindu pada sosok yang bayangannya mengisi ruang hati. Meski tak pasti adakah benar yang ia bayangkan tentang matanya, tentang alisnya, tentang lesung pipitnya, tentang ketegapannya, tentang semuanya. Meski tak pasti apakah cintanya bersambut sama.


Maka ditulisnyalah surat itu, memohon bertemu.


Dan ia mendapat jawaban. ”Ya”, katanya.


Akhirnya mereka bertemu di satu tempat yang disepakati. Berdua saja. Awal-awal tak ada kata. Tapi bayangan masing-masing telah merasuk jauh menembus mata, menghadirkan rasa tak karuan dalam dada.


Dan sang gadis yang mendapati bahwa apa yang ia bayangkan tak seberapa dibanding aslinya; kesantunannya, kelembutan suaranya, kegagahan sikapnya. Ia berkeringat dingin. Tapi diberanikannya bicara, karena demikianlah kebiasaan yang ada pada keluarganya.


”Maha Suci Allah”, kata si gadis sambil sekilas kembali memandang, ”Yang telah menganugerahi engkau wajah yang begitu tampan.”


Sang pemuda tersenyum. Ia menundukkan wajahnya. ”Andai saja kau lihat aku”, katanya, ”Sesudah tiga hari dikuburkan. Ketika cacing berpesta membusukkannya. Ketika ulat-ulat bersarang di mata. Ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugerah ini begitu sementara. Janganlah kau tertipu olehnya.”


”Betapa inginnya aku”, kata si gadis, ”Meletakkan jemariku dalam genggaman tanganmu.”


Sang pemuda berkeringat dingin mendengarnya. Ia menjawab sambil tetap menunduk memejamkan mata.


”Tak kurang inginnya aku berbuat lebih dari itu. Tetapi coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka; yang satu bagi yang lainnya. Tak berhak saling disentuhkan. Karena di akhirat kelak hanya akan menjadi rasa sakit. dan penyesalan yang tak berkesudahan.”


Si gadis ikut tertunduk. ”Tapi tahukah engkau”, katanya melanjutkan, ”Telah lama aku dilanda rindu, takut, dan sedih. Telah lama aku merindukan saat aku bisa meletakkan kepalaku di dadamu yang berdegub. Agar berkurang beban-beban. Agar Allah menghapus kesempitan dan kesusahan.”


”Jangan lakukan itu kecuali dengan haknya”, kata si pemuda. ”Sungguh kawan-kawan akrab pada hari kiamat satu sama lain akan menjadi seteru. Kecuali mereka yang bertaqwa.”


Kita cukupkan sampai di sini sang kisah. Mari kita dengar komentar Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan tentangnya. ”Apa yang kita pelajari dari kisah ini?”, demikian beliau bertanya. ”Sebuah kisah yang indah. Sarat dengan ’ibrah dan pelajaran. Kita lihat bahwa sang pemuda demikian fasih membimbing si gadis untuk menghayati kesucian dan ketaqwaan kepada Allah.”


”Tapi”, kata beliau memberi catatan. ”Dalam kisah indah ini kita tanpa sadar melupakan satu hal. Bahwa sang pemuda dan gadis melakukan pelanggaran syari’at. Bahwa sang pemuda mencampuradukkan kebenaran dan kebathilan. Bahwa ia meniupkan nafas da’wah dalam atmosfer yang ternoda. Dan dampaknya bisa kita lihat dalam kisah; sang gadis sama sekali tak mengindahkan da’wahnya. Bahkan ia makin berani dalam kata-kata; mengajukan permintaan-permintaan yang makin meninggi tingkat bahayanya dalam pandangan syari’at Allah.”

Ya. Dia sama sekali tak memperhatikan isi kalimat da’wah sang pemuda. Buktinya, kalimatnya makin berani dan menimbulkan syahwat dalam hati. Mula-mula hanya mengagumi wajah. Lalu membayangkan tangan bergandengan, jemarinya menyatu bertautan. Kemudian membayangkan berbaring dalam pelukan.


Subhanallah, bagaimana jika percakapan diteruskan tanpa batas waktu?


”Kesalahan itu”, kata Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan memungkasi, ”Telah terjadi sejak awal.” Apa itu?


”Mereka berkhalwat! Mereka tak mengindahkan peringatan syari’at dan pesan Sang Nabi tentang hal yang satu ini.”


Ya. Mereka berkhalwat! Bersepi berduaan. Ya. Sang pemuda memang sedang berda’wah. Tapi meminjam istilah salah seorang Akh yang paling saya cintai dalam ’surat cinta’-nya yang masih saya simpan hingga kini, ini adalah ”Da’wah dusta!” Da’wah dusta. Da’wah dusta. Di jalan cinta para pejuang, mari kita hati-hati terhadap jebakan syaithan. Karena yang tampak indah selalu harus diperiksa dengan ukuran kebenaran.


taken from: Jalan Cinta Para Pejuang/Cinta Bersujud Di Mihrab Taat/Selingan Cinta dari Khazanah Lama
by Salim A. Fillah


Rabu, 30 Disember 2009

Give me your e-mail

A jobless man applied for the position of “office boy” at Some Company. The HR manager interviewed him then watched him cleaning the floor as a test.

“You are employed.” He said.” Give me your e-mail address and I’ll send you the application to fill in, as well as date when you may start.”

The man replied “But I don’t have a computer, neither an email.

” I’m sorry”, said the HR manager, “If you don’t have an email, that means you do not exist. And who doesn’t exist, cannot have the job.”

The man left with no hope at all. He didn’t know what to do, with only $10 in his pocket. He then decided to go to the supermarket and buy a 10Kg tomato crate. He then sold the tomatoes in a door to door round. In less than two hours, he succeeded to double his capital.

He repeated the Operation three times, and returned home with $60. The man realized that he can survive by this Way, and started to go everyday earlier, and return late Thus, his money doubled or tripled every day. Shortly, he bought a cart, then a truck, then he had his own fleet of delivery vehicles.

5 years later , the man is one of the biggest food retailers in the US. He started to plan his family’s future, and decided to have a life insurance. He called an insurance broker, and chose a protection plan.

When the conversation was concluded, the broker asked him his email.

The man replied, “I don’t have an email”.

The broker answered curiously, “You don’t have an email, and yet have succeeded to build an empire. Can you imagine what you could have been if you had an email?!!”

The man thought for a while and replied, “Yes, I’d be an office boy at Some Company!”

Abah , Mama ,Maafkan Kakak

Terima kasih kepada:
nur_sakinah
editor: azzahra_solehah
Aku merenung ke luar tingkap. Hujan di luar seperti hujan di hatiku. Sedih, duka bercampur menjadi satu. Manik-manik jernih mulai turun membasahi pipi. " Mama..abah, maafkan akak," bisikku sendiri. Tragedi 13 tahun lalu, ku sematkan sebaik mungkin di dalam hati ini. Biarlah aku menanggung kesepian ini sendiri. Semua ini salahku..andai aku tidak memulakan episod itu, pasti ia takkan berlaku...
___________________________________________________
13 tahun yang lalu.. " Akak, mari makan sayang. Makanan dah siap ni. Kalau sudah sejuk, tak sedap pula," laung mama dari luar kamarku. Aku tersenyum girang. Itulah yang ku tunggu selama ini. Makanan yang sudah siap terhidang untukku dan keluarga. Sejam aku menghadap buku-buku, akhirnya tiba juga waktu rehat.
" Ye, mama. Akak datang nanti," suara lapan tahunku bernada riang. Ketika aku melangkah ke ruang dapur, aku terdengar adikku bersorak gembira. Aku semakin hairan, " Nak makan pun gembira sangat," ujarku kasar. Terdiam adik melihat reaksi aku. Kemudian dia berlari mendapatkan mama yang sedang mengandung. "Mama masak apa hari ni?," soalku kepada mama lalu membuka tudung saji. Mama hanya tersenyum." Mama masak laksa hari ni. Hari ini kan ulang tahun kelahiran adik..jadi mama masaklah makanan kegemaran dia," ucap mama sambil mengusap rambut adik dengan penuh kasih sayang. "Mama, akak kan tak suka laksa. Kenapa mama masak makanan ni? Mama ni, macam tak faham akak kan? ," tiba-tiba, tanpa ku sedari kata-kata itu terucap dibibirku. "Akak..ni, berkiralah. Setakat laksa, apa salahnya. Jangan cerewet sangat boleh tak?," marah adikku. Hatiku semakin panas mendengar kata-kata adik.
"Akak peduli apa? Akak nak juga makanan lain," keras kataku lalu aku cepat-cepat melangkah dari situ. Mama dan adik terpinga-pinga melihatku begitu. Mama hanya mampu menggeleng, begitu sedih hatinya melihat anak yang dikandung 9 bulan lebih memilih makanan dari penat lelahnya.
__________________________________________________________________
Aku mencapai telefon bimbit yang berada di atas meja. Cepat saja jari-jemariku mendail nombor itu. Tet, tet. Tet, tet.. "Assalammualaikum, ni siapa?," soal suara ditalian. "Abah, ni kakak," pantas saja aku menjawab. Tidak sabar menyatakan hasrat dihati. "Ye, kak? Kakak nak apa telefon abah ni?," tanya abah lembut. "Abah, akak lapar ni. Abah belikan makanan ye?," pujukku dengan nada minta dikasihani. "Mama tak masak ke?," tanya abah kembali. "Masak, tapi tak sedap. Akak tak sukalah makan laksa. Akak bukannya adik," jelasku dengan kasar. "Ah..jangan nak mengada. Mama dah masak tu, makan sajalah. Kesian tau kalau akak tak makan apa yang mama dah masak. Kecil hati mama nanti," pujuk abah untuk menenangkanku.
"Abah ni..sama dengan mama. Langsung tak faham kehendak kakak!" aku terus mematikan talian dengan perasaan bengang. "Sama je semua orang. Asyik fikir kehendak sendiri, kehendak aku siapa nak fikir? Tapi aku laparlah, kalau gastrik, susah ni," hatiku berbicara sendiri. Di saat itu, aku lebih memilih untuk mengunci pintu dan tidak mahu makan sehingga kehendakku ditunaikan. Sakit hati rasanya bila kehendak hati tidak ditunaikan.
__________________________________________________________________
"Abang, macam mana ni? Akak tak makan lagi ni. Dia tak keluar dari bilik langsung. Abang, saya takutlah dia pengsan ke, gastrik ke," mama menunjukkan rasa risaunya kepada abah. "Hish, awak ni. Tak ada apalah. Dia cuma merajuk je tu. Budak kecil memang macam tu," abah cuba memujuk mama walaupun abah sendiri khuatir dengan keadaan aku. "Abang, apa kata kita pujuk dia lepas tu bawa dia pergi fast food. Jomlah bang," pujuk mama kembali. Abah hanya menggeleng. "Iyalah..kita pujuk dia sama-sama, lepas tu bawa dia pergi fast food, okey?," akhirnya abah mengalah juga.
_________________________________________________________________
Aku menguntum senyuman apabila berdiri di dalam restoran terkenal itu. Berjaya juga helahku. "Akak nak beli apa?," tanya abah lembut. Aku lantas menyembunyikan senyumanku itu. Takut disedari oleh abah. "Akak nak beli ayam goreng..lepas tu kentang putar , ehmm..apalagi ye? Haa..akak nak beli aiskrim coklat dengan chesee burger," pintaku tanpa memperdulikan abah.Bagiku yang penting, apa yang ku hajati tercapai. Apalagi adik tidak ada untuk menggangguku. Sebelum pergi tadi, aku memujuk mama supaya meninggalkan adik di rumah untuk dijaga oleh nenek kerana adik sedang tidur. Abah dan mama saling berpandangan, akhirnya abah mengangguk tanda setuju.
__________________________________________________________________
"Akak dah puas hati?," tanya abah setelah kami sekeluarga berada di dalam kereta. "Sebenarnya, akak nak beli lagi..tapi cukuplah ni je," kataku acuh tak acuh. Langsung tidak ada sedikit pun ucapan terima kasih yang meniti dibibirku. Mama terdiam. Dia tidak tahu ingin berkata apalagi. "Abang, nanti singgah kedai bunga tu ye. Saya nak beli baja sikit," kata mama setelah abah menghidupkan enjin kereta. "Okey..nanti.." belum sempat pun abah menghabiskan ayatnya aku mencelah. "
Tak boleh, akak dah lapar ni. Nanti gastrik siapa susah. Ma, kita pergi lain kali ye?." Mama tersentak mendengar kata-kata aku. "Ye lah, kita tak payah pergi kedai tu. Kita terus balik rumah," balas mama. Dia tidak mahu aku merajuk seperti tadi, kerana kasih sayangnya dia sanggup mengetepikan kehendak dirinya demi aku. Aku mengukir senyuman paling manis di dunia. Tidak sabar rasanya ingin ku nikmati kelazatan fast food ini. Hanya kerana fast food, aku sanggup mengecewakan hati mama. "Abah, pinjam telefon bimbit boleh tak? Akak bosanlah. Akak nak main game," pujuk aku. "Nah..." Tiba-tiba telefon itu jatuh dari tangan abah. "Abah, telefon tu jatuhlah kat bawah kaki abah," ucapku dengan harapan abah mengambilnya. Abah hanya mendiamkan diri tanpa memberi respon. "Abah..cepatlah. Akak nak main game ni," marahku kepada abah. "Abah sedang memandu kereta, bahayalah sayang. Akak main dekat rumah ye," pujuk mama. "Akak nak main sekarang!," aku membentak. Abah membongkokkan sedikit badannya untuk mencapai telefon bimbit yang berada dikakinya. "Susahlah," kata abah.
"Abang, tak payahlah. Jangan dilayan sangat akak ni," kata mama apabila melihat abah sedaya upaya abah cuba mendapatkannya Aku memuncungkan bibir apabila mama berkata begitu. "Tak apelah, akak merajuk lagi nanti, " balas abah pula. Tiba-tiba.... " TON!! TON!!!" " Abang, ada lori depan tu!!!!," jerit mama apabila melihat sebuah lori kontena dari arah bertentangan sedang membelok ke simpang di hadapan kereta abah. Tapi semuanya sudah terlambat, abah tidak sempat menekan brek kereta.
__________________________________________________________________
"Akak, kenapa menangis ni?." kehadiran adik membuatkan aku tersedar daripada lamunan. "Adik..," ucapku perlahan. Adik menyapu perlahan air mata yang mengalir dipipiku ini. "Akak teringat arwah mama dengan abah ke?," duga adik. Aku mengangguk perlahan. "Akak, sabarlah. Apa yang terjadi ada hikmah disebaliknya. Tiada siapa yang bersalah dan tiada siapa yang dipersalahkan. ALLAH sayangkan mereka. Mungkin dengan pemergian mereka kita lebih pandai berdikari dan lebih pandai menghargai seseorang itu selagi dia masih ada di dunia ini." Air mataku mengalir lebih deras tanda terharu mendengar kata-kata adik.
Adik yang dulu aku jauhi, kini dialah yang memberikanku semangat agar aku terus kuat berdiri tabah mengharungi dugaan hidup. "Akak, kita doakan agar arwah abah dengan mama tenang di sana ye?," pinta adik. "Amin," aminku di dalam hati. Abah, mama. Akak minta maaf di atas segala kesalahan akak pada abah dan mama. Akak tidak mampu mengubah segalanya. Kalau akak tahu apa yang bakal terjadi, akak tidak akan berbuat begitu sama sekali. Tetapi, siapalah akak. Akak berdoa supaya Maha Esa menempatkan abah dan mama ditempat hamba-Nya yang beriman. Amin.

Ahad, 27 Disember 2009

Pilih Yang Paling Cantik

Pada suatu pagi di satu sekolah menengah, ada seorang pelajar bertanya pada seorang guru yang sedang mengajar. Ketika itu, guru tersebut sedang menyentuh mengenai kasih dan sayang secara am. Dialog di antara pelajar dan guru tersebut berbunyi begini :

Pelajar : Cikgu, macam mana kita nak pilih seseorang yang terbaik sebagai orangpaling kita sayang?. Macam mana juga kasih sayang itu nak berkekalan?

Cikgu : Oh, awak nak tahu ke?.Emmm…baiklah, sekarang kamu buat apa yang saya suruh. Ikut je ye…mungkin kamu akan dapat apa jawapannya.

Pelajar : Baiklah…apa yang saya harus buat?

Cikgu : Kamu pergi ke padang sekolah yang berada di luar kelas sekarang juga.Kamu berjalan di atas rumput di situ dan sambil memandang rumput di depan kamu, pilih mana yang PALING cantik tanpa menoleh ke belakang lagi walaupun sekali. Dan kamu petiklah rumput yang PALING cantik yang berada di depan kamu tersebut dan selepas itu bawa balik ke kelas.

Pelajar : Ok. Saya pergi sekarang dan buat apa yang cikgu suruh.

Apabila pelajar tersebut balik semula ke kelas, tiada pun rumput yang berada di tangannya. Maka cikgu pun bertanya kepada pelajar tersebut.

Cikgu : Mana rumput yang cikgu suruh petik?

Pelajar : Oh, tadi saya berjalan di atas rumput dan sambil memandang rumput yang berada di situ, saya carilah rumput yang paling cantik. Memang ada banyak yang cantik tapi cikgu kata petik yang paling cantik maka saya pun terus berjalan ke depan sambil mencari yang paling cantik tanpa menoleh ke belakang lagi. Tapi sampai di penghujung padang , saya tak jumpa pun yang paling cantik. Mungkin ada di antara yang di belakang saya sebelum itu tapi dah cikgu cakap tak boleh menoleh ke belakang semula, jadi tiadalah rumput yang saya boleh petik.

Cikgu : Ya, itulah jawapannya. Maknanya, apabila kita telah berjumpa dengan seseorang yang kita sayang, janganlah kita hendak mencari lagi yang lebih baik daripada itu. Kita patut hargai orang yang berada di depan kita sebaik-baiknya. Janganlah kita menoleh ke belakang lagi kerana yang berlaku tetap dah berlaku. Dan semoga yang berlalu tidak lagi berulang.Jika kita berselisih faham dengan orang yang kita sayang itu, kita boleh perbetulkan keadaan dan cuba teruskan perhubungan tersebut walaupun banyak perkara yang menggugat perhubungan tersebut.
Dan ingatlah orang yang kita sayang itulah kita jumpa paling cantik dan paling baik pada MULAnya walaupun nak ikutkan banyak lagi yang cantik dan baik seperti rumput tadi. KECUALILAH jika perhubungan tersebut tak boleh diselamatkan lagi, maka barulah kita mulakan sekali lagi. Maka sayangilah orang yang berada di depan kita dengan tulus dan ikhlas.

Sabtu, 26 Disember 2009

The Journey UP KLCC

There is this two friends working on the 80th floor of the Petronas Twin Tower or better known as KLCC.One morning, as always they arrived early, earlier than any other people working in KLCC as they are the hardest workers.They headed towards the lift lobby to take the lift to get to their office. However, they found that all the lifts were not functioning(Everybody go Awww...).



Then, one of them suggested, "Why not we take the stairs today?. I'm sure we can make it. We are still young, healthy and fit".The other friend was up to it and say "Why not? Lets see who reaches the 80th floor first! Loser weepers and have to buy lunch today."They both dashed for the staircase door and started climbing floor after floor after floor.1, 2, 3, 4, 5 floors. Still full of energy and enthusiastic about the fun they are havingracing each other.



They continued climbing, never looking back down or stopping for a rest. Soon they reachedthe 10th floor. They continued sharing stories and jokes while climbing.15th Floor soon passed by. By now they were a little thirsty and stopped for a drink fromthe water bottle they always brought along.



They soon got to the 20th Floor. "Whew, 20 down 60 to go" said one guy. "I'm so excitedto share this with our friends. "I wonder if anyone has ever done this. We are so COOL".Had another big gulp of water and off they went.Continues the climb and by the time they arrived at the 25th floor they were feeling alittle numb and sore. "This is a lot tougher than I thought" one of them blurted. Just a fewfloors back, they were still so EXCITED.So, they decided to leave there briefcase and handbag on the 25th floor to lessen theirweights.



They continued climbing as they really wanted to achieve the success ofclimbing up KLCC. It feels like conquering the world climbing staircases.Slowly but steadily they climbed. There were less stories and jokes shared now as most ofthem have been told. Soon they arrive at the 30th floor mark. (Wow! What an achievement)One of them soon have a different thought about the whole idea. "I think you shouldcarry on yourself, I'm out of this. My feet are hurting badly". The other, reluctant to give upyet persuades his buddy the best he could. "Owh, c'mon. Don't you want to achieve thistogether. It's only a few floors left. OK, let's take a breather and rest our feet a bit. We canstrategize our next half of the climb".The friend, not wanting to dissapoint his buddy agreed to it. Anyway, he also wanted to seewhat it feels like finishing the climb. So they started the climb again with a new strategy.



Before that, each took another gulp of water from the almost empty bottle they were carrying.However, it did not last too long. By the time they reached the 30th floor, the blame gamestarted. "I told you this was a crazy idea. We should have just waited for the lifts to berepaired" said one. "Hey, you were the one who got so excited about this. Now look whatyou got us into" said the other.By the time they arrived at the 40th floor, they were close to blows and were screamingat each other (Everyone go Aww..).



They were so angry with each other that they were no longerwalking side by side. One was leading the other.Strangely though, they still continued to climb. Even though they were so angry with eachother.



Ironic? I think they had the same thing in mind. To get to the 80th floor so that theyhad something to share with their friends.So it went on and on and on. However, by the time they hit 45th floor, no words wereexchanged anymore. They soon got tired fighting over nothing as they still needed toget to the 80th floor together.50 soon passed by. Then came 55th floor By now, even more tired then ever, theywere really thinking about stopping and just take the lift, enjoy the rest of the ride up.But NOOO!!! They continued climbing up the never ending staircase. Pain staking flight afterpain staking flight. Wondering when it would finally end.60th floor came and went. Bodies battered and pushed to the limits, they somehow gotthemselves to the 70th floor. "10 more to go. We are almost there". "Imagine the looks onthe peoples faces when we tell them about this" said the other. Finally they were talkingto each other again.They began sharing about what went through their minds and how they felt during this wholeexperience. About what made them decide to continue despite the challenges faced. Andwhether there was any regret doing this. They were so busy talking and climbing thatthey forgot everything, the pain, the tiredness and the quarrel. They were at floor number75. One by one, they started counting down.5, 4, 3, 2 ... And finally the last one. (Everybody go Whoopee!!).A few steps left. They could already see themselves arriving at the office door. Peoplegathering all around them, clapping and cheering because of their feat. (I would cheer as loudtoo if someone accomplish such a feat. Wouldn't you?).The last few long steps. 3 more, 2 more, 1 more. They were there. 80th floor(Everybody go Yay!!! and clap hard for them). But there was nobody around to clap or cheer.In fact, there were not many people around except for the cleaners and maintenancepeople working the night shifts. So, they strode towards their office meekly.At last, they were standing at the office door. Still locked and empty. They shuffled for awhile as if searching for something. (Yes friends, can you help me out here? I think you guessed it)"Do you have your keys?" they said in unison. Then both of them said in unison again "I left mine in my bag back down on the 25th floor".You might as well laugh now as you might not be laughing anymore as you read further.My dear friends,What I am sharing is actually the journey of our life. The floors represent our age. Waterrepresents hope and encouragement. The two friends represents partners in life (husbandand wife) And last but not least, the briefcase and handbag represents our dreams.Lets take a quick look back at the learnings and you can read this as many times you likeand also share it with all your friends.5th floor: When we were young, we were full of energy. Non-fearing, non-doubter.Everything in this world seems possible. We were still very innocent.10th floor: We start to have friends to share our joy and laughter.15th floor: School exams bowl us over for most of us. But we were always encouraged(water bottle) by our family and friends. And we always had hope that someday we willachieve big things.20th floor: School days are finally over. We step into a new area in life. as we are goingout into the real world for the first time in our life. This time the encouragement is far greater.All the big dreams that we have, we are going out to achieve it.25th floor: After graduation, we finally land a job. Working tirelessly, day in day out,we soon forgot our dreams (the bags). All the daydreaming when we were 5, 10, 15.All the big things we wanted to achieve. Drowned by our never-ending workload.30th floor: We soon lose contact with most of our friends as all are too busy with theirwork as well. And this is also when we get married and have to restrategize. We backoff a bit in terms of energy to spend time with our family.40th floor: In between, we have arguments with our spouse. Kids are born. More challengesto handle in life. And more still to come.45th floor: All the constant nagging begins to stop. Both husband and wife have a mutualunderstanding (or rather a deep understanding of each others nagging methods. LOL).55th floor: Time for retirement. Enjoy life (the lift). But for many, they still need tocontinue working or they won't have enough money to survive the days (How many of youknow people like that?)60th-70th floor: We have worked all our lives. Definitely we have many experiences to sharewith people. Both husband and wife looks at their children's all grown up and leading a lifeof their own, creating their own future.75th floor: Our time is almost up. We do not want to leave with an unhappy ending. Thatis when we look back into our lives and think about all the great things we have done inour life. We anticipate many people coming to see us when we soon have to go.80th floor: But in turned out that not many people came to see us away. We think for amoment and soon realized that we left all of our big dreams when we were 25. All thedreams of helping many people with what we have to offer. We did not live a wonderful life.In the end, it was all too late.We are there standing at the door but have to way to get in. And were too tired to goback down and get the bags.My friends, don't forget to chase your dreams. You create your life."Live Life With Passion"

Sabtu, 17 Oktober 2009

Air Mata Nabi Adam

Tahukah saudara semenjak Nabi Adam terkeluar dari syurga akibat tipu daya iblis, beliau menangis selama 300 tahun. Nabi Adam tidak mengangkat kepalanya ke langit kerana terlampau malu kepada Allah swt.

Beliau sujud di atas gunung selama seratus tahun. Kemudian menangis lagi sehingga air matanya mengalir di jurang Serantip. Dari air mata Nabi Adam itu Allah tumbuhkan pohon kayu manis dan pokok cengkih. Beberapa ekor burung telah meminum air mata beliau. Burung itu berkata, "Sedap sungguh air ini."

Nabi Adam terdengar kata-kata burung tersebut. Beliau menyangka burung itu sengaja mengejeknya kerana perbuatan derhakanya kepada Allah. Ini membuatkan Nabi Adam semakin hebat menangis. Akhirnya Allah telah menyampaikan wahyu yang bermaksud, "Hai Adam, sesungguhnya aku belum pernah menciptakan air minum yang lebih lazat dan hebat dari air mata taubatmu itu."

Wallahualam..

Kredit: isuhangat.blogspot.com

Bulan Dan Bintang Di Pagar Pelangi


Maha Suci Allah saja yg mengetahui segala apa yg tersirat maupun tersurat. Tak dapat kita sebagai hambaNYA yg kerdil lagi hina nak mentafsir semua yg DIA tunjukkan. Sebaliknya kita wajib mengagungkan kebesaran dan keesaanNYA tanpa mempersoalkan sikit pun apa saja yg DIA jadikan.

Meh K.Nor cerita dari awal ya.. duk diam2 dan baca betul2.. semua ni bukan rekaan mana2 penerbit. Semuanya benar, sikit pun tak direka oleh penerbit atau pun pengarah :) dan tak ada kena mengena dgn yg masih hidup maupun yg dah arwah..

Baca Selanjutnya disini......


Kredit : Dapat dari email fida dan http://secubitgaramnor67.blogspot.com/ Trimas

Isnin, 28 September 2009

10 Amalan Yang TerBalik

"10 AMALAN YANG TERBALIK"

Marilah kita bermuhasabah atau menilai dan menghitung kembali tentang amalan harian kita. Kadang-kadang kita akan dapati amalan kita adalah terbalik atau bertentangan dari apa yang patut dilakukan dan dituntut oleh Islam. Mungkin kita tidak sedar atau telah dilalaikan atau terikut-ikut dengan budaya hidup orang lain. Perhatikan apa yang dipaparkan dibawah sebagai contoh amalan yang terbalik:-

1. Amalan kenduri arwah beberapa malam yang dilakukan oleh keluarga simati selepas sesuatu kematian (malam pertama, kedua, ketiga, ketujuh dan seterusnya) adalah terbalik dari apa yang dianjurkan oleh Rasulullah di mana Rasulullah telah menganjurkan jiran tetangga memasak makanan untuk keluarga simati untuk meringankan kesusahan dan kesedihan mereka. Keluarga tersebut telah ditimpa kesedihan, terpaksa pula menyedia makanan dan belanja untuk mereka yang datang membaca tahlil. Tidakkah mereka yang hadir makan kenduri tersebut khuatir kalau-kalau mereka termakan harta anak yatim yang ditinggalkan oleh simati atau harta peninggalan simati yang belum dibahagikan kepada yang berhak menurut Islam?

2. Kalau hadir ke kenduri walimatul urus (kenduri kahwin) orang kerap salam berisi (hadiah wang yang diberi semasa bersalam). Kalau tak ada duit nak dikepit dalam tangan, maka segan ia nak pergi makan kenduri. Tetapi kalau ia menziarah orang mati, tidak segan pula salam tak berisi. Sepatutnya kalau menziarah keluarga si matilah kita patut memberi sedekah. Kalau ke kenduri kahwin, tak bagi pun tak apa kerana tuan rumah panggil untuk diberi makan bukan untuk ia menambah pendapatan.

3. Ketika menghadiri majlis pemimpin negara, kita berpakaian cantik kemas dan segak tetapi bila mengadap Allah baik di rumah maupun di masjid, pakaian lebih kurang saja bahkan ada yang tak berbaju. Tidakkah ini suatu perbuatan yang terbalik.

4. Kalau menjadi tetamu di rumah orang dan di beri jamuan, kita rasa segan nak makan sampai habis apa yang dihidangkan kerana rasa segan dan malu, sedangkan yang dituntut dibanyakkan makan dan dihabiskan apa yang dihidang supaya tuan rumah rasa gembira dan tidak membazir.

5. Kalau bersolat sunat di masjid amat rajin, tapi kalau di rumah, sangat malas. Sedangkan sebaik-baiknya solat sunat banyak dilakukan di rumah seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk mengelakkan rasa riak.

6. Bulan puasa adalah bulan mendidik nafsu termasuk nafsu makan yang berlebihan tetapi kebanyakan orang mengaku bahawa dalam carta perbelanjaan setiap rumah orang Islam akan kita dapati perbelanjaan di bulan puasa adalah yang tertinggi dalam setahun. Sedangkan sepatutnya perbelanjaan di bulan puasa yang terendah. Bukankah terbalik amalan kita?

7. Kalau nak mengerjakan haji, kebanyakan orang akan membuat kenduri sebelum bertolak ke Mekah dan apabila balik dari Mekah tak buat kenduri pun. Anjuran berkenduri dalam Islam antaranya ialah kerana selamat dari bermusafir, maka dibuat kenduri, bukan kerana nak bermusafir, maka dibuat kenduri. Bukankah amalan ini terbalik?

Atau kita mempunyai tujuan lain. ??

8. Semua ibubapa amat bimbang kalau-kalau anak mereka gagal dalam periksa. Maka dihantarlah ke kelas tuisyen walau pun banyak belanjanya. Tapi kalau anak tak boleh baca Quran atau solat, tak bimbang pula bahkan tak mahu hantar tuisyen baca Quran atau kelas khas mempelajari Islam. Kalau guru tuisyen sanggup dibayar sebulan berpuluh ringgit satu pelajaran 8 kali hadir tapi kepada Tok Guru Quran nak bayar RM15.00 sebulan 20 kali hadir belajar pun menggeletar tangan. Bukankah terbalik amalan kita? Kita sepatutnya lebih berbimbang jika anak tidak dapat baca Al Quran atau bersolat dari tidak lulus periksa.

9. Kalau bekerja mengejar rezeki Allah tak kira siang malam, pagi petang, mesti pergi kerja. Hujan atau ribut tetap diharungi kerana hendak mematuhi peraturan kerja. Tapi ke rumah Allah (masjid) tak hujan, tak panas, tak ribut pun tetap tak datang ke masjid sedangkan itu ialah peraturan Allah. Sungguh tak malu manusia begini, rezeki Allah diminta tapi nak ke rumahNya segan dan malas.

10. Seorang isteri kalau nak keluar rumah samada dengan suami atau tidak, bukan main lagi berhias. Tetapi kalau duduk di rumah, masyaAllah. Sedangkan yang dituntut seorang isteri itu berhias untuk suaminya, bukan berhias untuk orang lain. Perbuatan amalan yang terbalik ini membuatkan rumahtangga kurang bahagia
.

11. Kita cukup teruja untuk forward kan sms atau emel dalam bentuk jokes, gossip2 artis kepada kawan2. Malah kebanyakkan sms emel tersebut tidak benar dan boleh menjatuhkan maruah org lain.. Tapi kenapa susah sangat nak forward emel2 peringatan sebegini kepada kawan2 kita??.....

Cukup dengan contoh-contoh di atas. Marilah kita berlapang dada menerima hakikat sebenarnya. Marilah kita beralih kepada kebenaran agar hidup kita menurut landasan dan ajaran Islam yang sebenar bukan yang digubah mengikut selera kita. Allah yang mencipta kita maka biarlah Allah yang menentukan peraturan hidup kita. Sabda Rasullullah SAW: "Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat." (Riwayat Bukhari)

Sabtu, 26 September 2009

5 Syarat.....

5 SYARAT NAK BUAT MAKSIAT oleh IBRAHIM ADHAM


Ibrahim bin Adham berkata, “Syarat pertama, jika kamu bermaksiat kepada Allah, jangan memakan rezekinya.” Mendengar itu dia mengernyitkan kening seraya berkata, “Dari mana aku mahu makan? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah? “Ya!” tegas Ibrahim bin Adham. “Kalau kamu sudah memahaminya, masih mampukah memakan rezekinya, sedangkan kamu selalu berkeinginan melanggar larangan-Nya?”
“Yang kedua,” kata Ibrahim, “kalau mahu bermaksiat, jangan tinggal di bumi-Nya! Syarat ini membuat lelaki itu terkejut setengah mati. Ibrahim kembali berkata kepadanya, “Wahai Abdullah, fikirkanlah, apakah kamu layak memakan rezeki- Nya dan tinggal di bumi-Nya, sedangkan kamu melanggar segala larangan-Nya?”
“Ya! Anda benar.” kata lelaki itu. Dia kemudian menanyakan syarat yang ketiga. Ibrahim menjawab, “Kalau kamu masih mahu bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat oleh-Nya!” Lelaki itu kembali terperanjat dan berkata, “Wahai Ibrahim, ini nasihat macam mana? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?” “Ya, kalau memang yakin demikian, apakah kamu masih berkeinginan melakukan maksiat?” kata Ibrahim. Lelaki itu mengangguk dan meminta syarat yang keempat.
Ibrahim melanjutkan, “Kalau malaikat maut datang hendak mencabut rohmu, katakanlah kepadanya, ‘Ketepikan kematianku dulu. Aku masih mahu bertaubat dan melakukan amal soleh’.” Kemudian lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersedar, “Wahai Ibrahim, mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permintaanku?”

“Wahai Abdullah, kalau kamu sudah meyakini bahawa kamu tidak boleh menunda dan mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau boleh lari dari kemurkaan Allah?”

“Baiklah, apa syarat yang kelima?” Ibrahim pun menjawab, “Wahai Abdullah kalau malaikat Zabaniyah datang hendak mengiringmu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau ikut bersamanya.”

Perkataan tersebut membuat lelaki itu insaf. Dia berkata, “Wahai Aba Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan aku menolak kehendaknya.” Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim. Air matanya bercucuran. “Mulai saat ini akut bertaubat kepada Allah.” katanya sambil menangis teresak-esak..

Jumaat, 25 September 2009

The story of Shaykh Abdullah Al-Andalusi (Rah)

The story of Shaykh Abdullah Al-Andalusi (rah)
Adapted from Aap Beeti

This is a story filled with lessons and warning, anyone who is in a high position of academic activity or in Tasawwuf or in any other service of Deen will derive benefit and guidance from it. They will learn that it is of utmost importance for one to avoid thinking of others as being inferior to him. They should always remember the advice of Shaykh Shahabuddin Suhrawardi (rah), the spiritual guide of Shaykh Saadi (rah): "Never become self-conceited and never look down upon anyone else."

This story takes place at a time when piety, trust and righteousness was quite prominent in the lives of the people. In every town there were numerous Ulema and pious men, especially in Baghdad, which at the time was the seat of the Islamic State. It was a gathering place for the jurists, scholars of hadith, and the saints. In this city among all these pious people, was one Abu Abdullah Al-Andalusi (rah), who had thirty khanqahs (spiritual retreats) in Baghdad. In addition he was a well-known scholar and muhaddith and it said that the number of his disciples was 12,000. He knew 30,000 hadith by heart, and could recite the Quran in all the various 'Qiraats'.

On a certain occasion he was going on a journey and was accompanied with a large crowd of attendants among whom were the well-known Junayd Baghdadi (rah) and Shibli (rah). Hadrat Shibli (rah) continues the story: "Our caravan was travelling along quite nicely, safely and comfortably until we passed by an area where Christians were residing. It was already time for Salaah, but because of the unavailability of water, we had not performed it yet. When we reached the Christian village, a search was made for water. We went about the village and discovered the town had many temples, sun-worshipping altars, synagogues and churches. Some of them worshipped the sun, some were worshipping the fire, and some were directing their pleas at the cross. We passed all this and reached the outskirts of the town, where we found a well and a few girls drawing water for people to drink."

Shaykh Abu Abdullah's (rah) eyes fell upon one of the girls who stood out from the rest through her exquisite beauty. She was dressed in beautiful clothes and adorned in jewelry. The Shaykh (rah) asked the other girls who she was. They replied: "This is the daughter of our chief". The Shaykh (rah) replied: "Then why did her father degrade her to such an extent that she has to sit by the well and give people water to drink?"

The girls replied: "He does not want her to sit around and be proud and boastful of her father's possessions". Hadrat Shibli (rah) says: "The Shaykh (rah) sat down with his head bent forward and remained silent like that for three days. At the time of Salaah he would perform his Salaah." On the third day becoming despondent with his situation, I decided to speak to him. I said: "O Shaykh, your mureeds (disciples) are very worried and perplexed at this continued silence of yours. Please speak to us. What is the problem?"

The Shaykh (rah) replied: "My beloved friends! For how long can I keep my condition hidden from you? My heart has become filled with love for the girl we saw the day before yesterday. So much has this love filled me that it is in control of all my limbs. It is not possible for me under any circumstance to leave from here." Hadrat Shibli (rah) replied: "Our leader! You are the spiritual guide of all Iraq. You are known for your piety, knowledge and virtues. Your disciples number over 12,000. I beg you through the Holy Quran not to disgrace us." The Shaykh (rah) replied: "My beloved friends, your lot and my lot has already been sealed by fate. The cloak of sainthood has been removed from me and the signs of guidance have been taken away from me. What has been predestined has come to pass, now I am nothing." Saying this the Shaykh (rah) started weeping bitterly.

When the people heard of our return, they turned up in large numbers at the outskirts of the city to come and meet the Shaykh (rah) . They saw that he was not with us and asked about it. We told them the entire story. They was a lot of sorrow and crying. Many fell down in prayer begging Allah to guide the Shaykh (rah) to the right path and return him to his former position. In the meantime all the khanqahs were closed down. We were still talking about the Shaykh's (rah) tragedy one year later when we decided to visit that town again and find out how he was. A group of us set forth and after enquiring were told that he was in the woods looking after pigs. We said: "Allah protect us! What has happened? The villagers told us that he had proposed marriage to the daughter of the village chief. The girls father had accepted the proposal on the condition that he would look after the pigs."

"With tears streaming down our eyes, we went to the woods where he was rearing pigs. We saw him with a string of sacred beads around his neck. He stood leaning on a staff as he watched the pigs, standing in the same way in which he stood when he used to deliver the Khutbah for us. This was like rubbing salt into our open wounds."

When he saw us coming towards him he bent his head in shame. We came nearer and said "Assalamu Alaykum." He replied: "Walaykumus salaam". Then Hadrat Shibli (rah) asked: "Shaykh (rah) inspite of your knowledge and virtue what is this that has happened to you?" The Shaykh (rah) replied: "My brothers! I am now no longer driven by my own choice and will. Whatever Allah has desired for me, He has done with me. After having brought me so near to His door, He has now thrown me very far away from Him. Who is there that can overturn the decree of Allah? O my brothers, fear Allah's power and wrath. Never become proud and arrogant regarding your knowledge and virtues. Then turning towards the heavens he said: "O my Lord, I never expected that You will make me so disgraced and despised and send me away from Your door." Then he began crying bitterly and appealing to Allah.

Seeing the Shaykh (rah) in such hopelessness, they left for Baghdad. However on the way they saw the Shaykh (rah) in front of them coming out of a river, where he had just performed a bath. In a loud voice he said: "I bear witness that there is none worthy of worship besides Allah and I bear witness that Muhammad (sallahu alayhi wa sallam) is the Messenger of Allah" The Shaykh (rah) asked us for pure clothing to wear. He then started performing Salaah after which he was asked the reason why he was put through such an intense trial?

The Shaykh (rah) replied: "When we arrived in the village and saw the temples, synagogues and churches and we saw fire-worshippers busy worshipping things other than Allah, a pride overtook my heart. I thought that these people were so foolish to worship lifeless things. At that time I heard a voice inside me saying: 'This Iman that you have, in not part of your virtue or good qualities. All this is merely Our favors upon you. Do not consider your faith to be of your own choosing, that you can now look down upon these people with despising eyes. And if you so wish, We will test you now.' At that moment I felt has if a dove had left my heart and flew away. That was in fact my Imaan."

Hadrat Shibli (rah) relates: "Thereafter our caravan arrived in Baghdad with great joy all around. All of his mureeds were extremely happy that the Shaykh (rah) had reverted to Islam. He resumed his activities in Tasawwuf, Tafseer and Hadith. The Khanqahs were reopened and in a short while, his mureeds numbered over 40,000."

A Day In The Life Of A Muslim

A Day in the Life of a Muslim

By Shaykh Ashraf Ali Thanwi
Guidelines on how a Muslim should Spend his Night and Day

1. Acquire knowledge of Deen according to your needs. You could acquire this knowledge either by reading a book, or by asking the Ulamaa.

2. Abstain from all sins.

3. If you commit any sin, repent immediately.

4. Do not hold back in fulfilling anyone's right. Do not cause anyone physical or verbal harm. Do not speak ill of anyone.

5. Do not have any love for wealth nor any desire for name and fame. Nor should you concern
yourself with extravagant food and clothing.

6. If someone rebukes you for your mistake or error, do not try to justify your action. Admit
your fault and repent.

7. Do not embark on a journey without any dire necessity. This is because many unconscious and
unintended acts are committed while on a journey. Many good deeds are missed out, there is a shortcoming in the different forms of zikr (remembrance of Allah Ta'aalaa), and whatever
work has to be done, is not fulfilled on time.

8. Do not laugh excessively nor should you talk excessively.You should take special precaution
in not talking with ghayr mahrams (those with whom the observance of hijaab is incumbent) in any informal way.

9. Do not go about repeating or mentioning an argument that may have taken place between two persons.

10. Always be mindful of the rules of the Sharee'ah in everything that you do.

11. Do not display laziness in executing any act of ibaadah.

12. Try and spend most of your time in seclusion.

13. If you have to meet and converse with others, meet them with humility and do not display
your greatness.

14. Associate very little with rulers and those who hold high positions.

15. Stay very far from irreligious people.

16. Do not search for faults of others. Do not have evil thoughts with regards to anyone. Instead,
look at your own faults and try to put them in order.

17. You should be very particular in offering your Salaat in the proper manner, at the proper time, and with great concentration.

18. Always occupy yourself in the remembrance of Allah ta'aalaa either with your heart or tongue. Do not be neglectful in this regard at anytime.

19. If you experience any satisfaction in taking the name of Allah and your heart feels happy over this, then express your gratitude towards Allah ta'aalaa.

20. Speak in a nice, humble way.

21. Set aside specific times for all your different tasks and abide strictly to these times.

22. Whatever regret, sorrow, or loss you may experience; consider it to be from Allah ta'aalaa.
Do not be despondent, instead, think that you will be rewarded for this.

23. Do not think about worldly matters, calculations, profits and losses, etc. all the time. Instead,
think about Allah ta'aalaa.

24. As far as possible, try to help and benefit others, irrespective of whether it be in worldly
affairs or Deeni matters.

25. Do not eat and drink too little to the extent that you become weak and fall ill. Nor should you eat and drink too much, to the extent that you feel lazy in carrying out the different acts of ibaadah.

26. Do not have any desire or greed for anything from anyone except Allah ta'aalaa. Nor should you allow your mind to wander towards any place thinking that you will be able to gain certain benefit or profit from there.

27. Be restless in your quest for Allah ta'aalaa.

28. Be grateful for the favours that are bestowed upon you, irrespective of whether they are plenty or few. Do not be depressed with poverty and destitution.

29. Overlook the faults and mistakes of those who are under your control.

30. If you learn of any fault of someone,conceal it. However, if the person plans to cause some
harm to someone else and you learn of it, then warn the other person beforehand.

31. Be in the service of guests, travellers,strangers,Ulamaa, and pious servants of Allah
ta'aalaa.

32. Choose the company of the pious.

33. Fear Allah ta'aalaa all the time.

34. Remember death.

35. Set aside a certain time daily, wherein you should think about all your actions for that day. When you remember any good action, express gratitude. When you remember any evil action, repent.

36. Do not ever speak any lies.

37. Do not ever attend gatherings that are contrary to the Sharee'ah.

38.Live with bashfulness, modesty and for bearance.

39. Do not be conceited by thinking to yourself that: "I have such and such qualities in me."

40. Continue making du'aa to Allah ta'aalaa that He must keep you steadfast on the Straight Path

Sabtu, 1 Ogos 2009

Kisah Nafsu Yang Degil

Dalam sebuah kitab karangan 'Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syaakir Alkhaubawiyi, seorang ulama yang hidup dalam abad ke XIII Hijrah, menerangkan bahawa sesungguhnya Allah S.W.T telah menciptakan akal, maka Allah S.W.T telah berfirman yang bermaksud : "Wahai akal mengadaplah engkau." Maka akal pun mengadap kehadapan Allah S.W.T., kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Wahai akal berbaliklah engkau!", lalu akal pun berbalik.
Kemudian Allah S.W.T. berfirman lagi yang bermaksud : "Wahai akal! Siapakah aku?". Lalu akal pun berkata, "Engkau adalah Tuhan yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu yang daif dan lemah."

Lalu Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Wahai akal tidak Ku-ciptakan makhluk yang lebih mulia daripada engkau."

Setelah itu Allah S.W.T menciptakan nafsu, dan berfirman kepadanya yang bermaksud : "Wahai nafsu, mengadaplah kamu!". Nafsu tidak menjawab sebaliknya mendiamkan diri. Kemudian Allah S.W.T berfirman lagi yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau."

Setelah itu Allah S.W.T menyiksanya dengan neraka jahim selama 100 tahun, dan kemudian mengeluarkannya. Kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau."

Lalu Allah S.W.T menyiksa nafsu itu dalam neraka Juu' selama 100 tahun. Setelah dikeluarkan maka Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Akhirnya nafsu mengakui dengan berkata, " Aku adalah hamba-Mu dan Kamu adalah tuhanku."

Dalam kitab tersebut juga diterangkan bahawa dengan sebab itulah maka Allah S.W.T mewajibkan puasa.

Dalam kisah ini dapatlah kita mengetahui bahawa nafsu itu adalah sangat jahat oleh itu hendaklah kita mengawal nafsu itu, jangan biarkan nafsu itu mengawal kita, sebab kalau dia yang mengawal kita maka kita akan menjadi musnah.

"REBUTLAH 5 PELUANG INI SEBELUM TIBA 5 RINTANGAN" WAKTU KAYA SEBELUM MISKIN,WAKTU SENANG SEBELUM SIBUK,WAKTU SIHAT SEBELUM SAKIT, WAKTU MUDA SEBELUM TUA DAN WAKTU HIDUP SEBELUM MATI"

WALLAHUALAM

Kredit kepada : (isuhangat.blogspot.com)

Sabtu, 4 April 2009

Anda Punyai Kerja Yang Susah?



Anda Punyai Kerja Yang Susah? Anda sudah Pasti?

Rabu, 13 Ogos 2008

Ahad, 1 Jun 2008

Derma Dan Renung-Renungkan....

Budak lelaki ini boleh membantu....kenapa yang lain yang lebig baik tidak dapat ? Mungkin berat sangat hendak membantu...
Dia "Berjalan" terus, kita andaikan dia hanya melaluinya sahaja.....

Photobucket - Video and Image Hosting

Saya nak men"Derma",kata budak tersebut
Dia mengeluarkan syiling-nya dari kocek nya dan
pegawai tersebut ingin membantu dan dia meletak tabung dibawah

Photobucket - Video and Image Hosting

Suasana tak terkata..dia terus melangkah hadapan ke masyarakat..

Photobucket - Video and Image Hosting

"Saya masih ada wang"lagi, katanya...kami tersentak..

Photobucket - Video and Image Hosting

Dia mengeluarkan beberapa wang dan mendermakannya lagi..

Photobucket - Video and Image Hosting

( Kredit kepada: Isuhangat.blogspot.com)

Jumaat, 21 Mac 2008

Dimana-mana pun, kita boleh berSOLAT

Bila melihat gambar dibawah ni, rasa terharu sungguh dan merasa diri-ini sungguh kecil sekali.Jurnalcomot berharap,apa yang disiarkan disini dapat merubahkan diri kita kepada yang lebih baik dan tiada lagi alasan utk meninggalkan Solat dan yang sewaktu dengannya.

Photobucket - Video and Image Hosting
Ketika di-laut


Photobucket - Video and Image Hosting
Di-jalan raya(1)

Photobucket - Video and Image Hosting
Di jalan-raya(2)

Photobucket - Video and Image Hosting
Di jalan-raya(3)


Photobucket - Video and Image Hosting


Photobucket - Video and Image Hosting
Di tempat yang dingin dan berais


Photobucket - Video and Image Hosting
Berjemaah di jalan raya


Photobucket - Video and Image Hosting
Di-stesyen kereta api

Photobucket - Video and Image Hosting
Di tempat perniagaan


Photobucket - Video and Image Hosting
Malahan di-dalam kapal-terbang juga